Pencuri Yang Diubah

Sunday, August 26, 2007

  Tukang pajak berbangsa Prusia yang berwajah kejam itu berhadapan
  muka dengan putranya yang berusia sepuluh tahun dan berkata, "Kamu
  telah mengambil uang yang bukan milikmu, George."

  Anak itu menggeliat-geliat di bawah pandangan ayahnya. "Tidak,
  Ayah," ia menggagap, "saya tidak mengambil uang."

  "Sekali ini aku memasang sebuah perangkap," si ayah menjelaskan.
  "Aku kira kamu telah mencuri uang dari pajak pungutanku, saat itu
  aku menghitung sejumlah uang dan kemudian menaruhnya di ruangan ini.
  Sebagian dari uang itu telah hilang. Nah, kucing tidak mungkin
  mengambilnya."

  "Ayah keliru," anak itu memohon.

  "Aku tidak keliru. Jika kamu tidak mengakuinya, aku harus
  menggeledahmu."

  Tukang pajak itu menggeledah saku anaknya dan tidak menemukan
  apa-apa. George tersenyum sendiri.

  "Sekarang buka sepatumu," ayahnya memerintahkan.

  "Kaki saya sakit. Kalau dibuka nanti sakit."

  "Aku katakan, buka."

  Anak itu dengan segan membuka sepatunya.

  "Sekarang berikan sepatu itu kepadaku."

  Anak itu menurut. Senyuman itu samar-samar lenyap dari wajahnya.

  "Ah, ini dia. Sekarang, pergilah ke gudang."

  "Tetapi, saya minta maaf, Ayah. Saya berjanji tidak akan mencuri
  lagi."

  George Müller menerima hukumannya. Tetapi ia mencuri lagi, mencuri
  lagi, mencuri lagi -- sampai akhirnya hidupnya diubah oleh Kristus.

  Ibunya meninggal ketika ia berumur empat belas tahun dan waktu itu
  ia sedang bersekolah. Pada malam ketika ibunya meninggal, dengan
  tidak sadar akan penyakit ibunya, George sedang bermain kartu. Hari
  Minggu, keesokan harinya, ia menghabiskan waktunya bersama-sama
  dengan beberapa temannya di sebuah kedai minuman.

  Tidak berapa lama kemudian, ia dibaptiskan di sebuah gereja
  Lutheran. Ayahnya telah memberinya uang yang banyak untuk membayar
  gembala jemaatnya. Tetapi George yang licik itu memberi gembala
  jemaat itu hanya seperduabelas dari jumlah uang itu.

  "Saya akan berlaku lebih baik," ia berjanji kepada dirinya sendiri
  pada saat ia mengikuti kebaktian. Tetapi keputusannya itu sia-sia
  saja.

  Tahun berikutnya, ayahnya dipindahkan ke kota Schoenebeck, Prusia.
  Ia meninggalkan George sendirian di rumahnya yang lama agar
  mengawasi perbaikan-perbaikan rumahnya dan belajar dengan seorang
  pendeta karena George telah membuat keputusan untuk belajar menjadi
  pendeta. Tetapi ketika tukang pajak itu pergi. George sibuk dengan
  pekerjaannya yang lain. Ia mengumpulkan uang orang-orang di desanya
  yang berutang kepada ayahnya, lalu ia melakukan perjalanan yang
  kemudian ia sebut "dosa enam hari." Ketika uangnya telah habis, ia
  pindah ke hotel yang mahal, menginap seminggu, kemudian lari tanpa
  membayar ongkos-ongkosnya. Ia pindah ke hotel lain, menginap dan
  bersenang-senang seminggu lamanya, lalu bersiap-siap untuk melarikan
  diri melalui sebuah jendela. Namun, kali ini ia tertangkap. Pada
  umur enam belas tahun, anak tukang pajak itu dipenjara selama dua
  puluh empat hari.

  Setelah ayahnya memberikan uang jaminan untuknya, ia bersekolah di
  Nordhausen, Prusia. Untuk menyenangkan hati gurunya, ia belajar dari
  jam empat pagi sampai jam sepuluh malam. Gurunya memujinya di kelas
  sebagai seorang pemuda dengan harapan yang baik dalam pelayanan
  kependetaan. Walaupun demikian, George Müller terus-menerus
  bermabuk-mabukan dan berfoya-foya. Ia merasa bersalah pada saat ia
  turut ambil bagian dalam perjamuan Tuhan. "Tetapi satu atau dua hari
  setelah ikut serta dalam perjamuan Tuhan itu, saya berlaku sama
  jahatnya seperti sebelumnya," ia menulis dalam catatan hariannya.

  Ketika ia berumur dua puluh tahun, ia dianjurkan belajar di
  Universitas Halle serta diberi hak untuk berkhotbah. Ketika di Halle
  inilah ia menyadari bahwa ia harus memperbaiki diri seandainya saja
  ada sebuah jemaat yang memilih dia sebagai gembala jemaatnya. Pada
  waktu itu, ia menganggap pelayanan kependetaan semata-mata sebagai
  suatu mata pencaharian yang baik, bukan sebagai suatu pelayanan
  kepada orang-orang yang memerlukan pertolongan.

  Ia bertemu dengan seorang teman mahasiswa bernama Beta yang hidup
  sebagai orang Kristen yang patut dicontoh. George memilih Beta
  sebagai teman dekatnya, dengan berpikir bahwa ia memperbaiki
  hidupnya dengan seorang teman Kristen.

  Tetapi Beta itu seorang Kristen yang kembali berbuat jahat dan ia
  bersahabat dengan George hanya karena ia mengira George akan
  membawanya kepada kesenangan-kesenangan yang lebih banyak.

  Dalam bulan Agustus tahun 1825, George Müller, Beta, dan dua orang
  mahasiswa lainnya menggadaikan sebagian milik mereka untuk
  memeroleh cukup banyak uang untuk bepergian selama beberapa hari.
  Ketika seorang dari mahasiswa-mahasiswa itu mengusulkan pergi ke
  Swiss, George yang licik itu sudah memunyai suatu rencana. Ia hanya
  duduk saja dan memalsukan surat-surat penting yang diperlukan dari
  orang tuanya untuk mendapatkan paspor.

  Dalam perjalanan itu, George menjadi bendahara. Karena ia memang
  suka mencuri, ia menyelewengkan uang itu supaya teman-temannya
  membayar sebagian dari ongkos-ongkosnya.

  Ketika mereka kembali ke universitas, Beta sangat menyesal dan ia
  mengakui segala dosanya kepada ayahnya. Kemudian ia mengundang
  George untuk menghadiri suatu persekutuan doa di rumah seorang
  teman. Mereka pergi bersama. "Saya belum pernah sebelumnya melihat
  seorang berdoa berlutut," demikianlah komentar George yang kemudian
  menjadi seorang yang terkenal di dunia karena kuasa doanya.

  George merasa canggung di dalam persekutuan itu karena suasananya
  yang aneh. Ia bahkan meminta maaf atas kehadirannya di sana.

  "Datanglah sering-sering; pintu dan hati kami terbuka bagi Saudara,"
  tuan rumah itu mengundangnya dengan senang hati.

  Setelah dua lagu pujian, satu pasal dari Alkitab dibacakan. Kemudian
  lagu pujian lainnya dan pada saat tuan rumah itu berdoa, suatu
  perasaan sukacita dan damai timbul dalam hari George Müller. Dalam
  perjalanan pulang, dengan penuh kegembiraan, ia berkata kepada Beta,
  "Segala kesenangan kita yang dulu itu tidak ada artinya dibandingkan
  dengan apa yang kita alami malam ini."

  Kristus telah menyentuh hati George Müller di persekutuan doa itu,
  dan sejak saat itu ia menjalani kehidupan yang telah diubah.

  Kemudian ia pindah ke Inggris, di mana ia menjadi terkenal sebagai
  orang yang beriman. Ia mendirikan lima buah Panti Asuhan di Bristol
  yang dapat menampung dua ribu orang anak. Selama hidupnya, ia
  mengurus 9.975 orang anak yatim piatu dan menerima lima puluh ribu
  jawaban khusus bagi doanya.

  Inilah kisah orang yang tidak pernah melihat seorang Kristen berdoa
  berlutut sampai ia berusia dua puluh satu tahun.

  Diambil dan diedit seperlunya dari:
  Nama situs        : Pemuda Kristen
  Judul asli artikel: Pencuri yang Diubah -- George Muller
  Penulis           : James C. Hefley
  Alamat URL        : http://www.pemudakristen.com/artikel/pencuri_yang_diubah.php

  Catatan: Artikel di atas dapat ditemukan dalam versi tercetak pada
  buku "Bagaimana Tokoh-Tokoh Kristen Bertemu dengan Kristus" karya
  James C. Hefley, terbitan Yayasan Kalam Hidup.

Posted by David Hotary P at 8/26/2007 12:15:00 PM

0 comments:

Post a Comment